G‐20 dan Momentum Revitalisasi Perekonomian Regional

0
711

Nuzul Achjar, PhD
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dan Pengajar di Fakultas Ekonomi UI

Perhatian dunia selama 23-24 September 2009 tertuju pada Kota Pittsburgh, kawasan di barat daya negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, tempat diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara kelompok G-20. Indonesia termasuk salah satu negara anggota G-20 yang hadir dalam KTT tersebut yang langsung dipimpin oleh Presiden SBY.

Pertemuan di Pittsburgh ditujukan untuk membicarakan masalah energi, lingkungan, pemanasan global, dan upaya untuk mengatasi dampak sistemik krisis yang ditimbulkan kredit perumahan (subprime mortgage) di  AS yang dampaknya sangat terasa secara global.

Latar belakang keputusan tuan rumah presiden AS Barrack Obama yang menetapkan Pittsburgh sebagai tempat pertemuan berskala besar semacam G-20 menarik untuk disimak. Mengapa bukan kota besar yang sudah sangat dikenal di AS seperti Washington DC, New York, Los Angeles atau Chicago sebagai ajang pertemuan ini?

Rupanya alasan Obama cukup sederhana namun jitu, antara lain bahwa pertemuan di Pittsburgh diharapkan dapat membangkitkan kembali (revitaliasi) perekonomian kota ini. Kota ini mendapat publikasi secara luas dari kegiatan skala besar. Pihak kota sendiri diperkirakan mengeluarkan anggaran sekitar 25 juta dolar AS. Kegiatan ini akan memberikan dampak pengganda (multiplier) yang besar bagi kegiatan ekonomi Kota Pittsburgh dan sekitarnya.

Selama tiga dasa warsa terakhir, Pittsburgh mengalami kemunduran ekonomi karena peranan industri baja, yang pernah menjadi primadona kota ini sudah semakin pudar (sunset industry).

Walau demikian, perusahaan baja  di  kota ini masih menempati ranking ke-10 produksi baja terbesar dunia. Bukan suatu kebetulan jika masalah baja diperkirakan akan menjadi salah satu agenda pembicaraan bilateral antara AS dan Cina pada pertemuan G-20.

Dapat dibayangkan, hotel di Pittsburgh akan penuh terisi oleh tamu-tamu, tidak hanya oleh para rombongan peserta resmi, tetapi juga juru warta, petugas keamanan dan lainnya dari delapan penjuru angin, termasuk masyarakat dari negara bagian lainnya yang mempunyai kepentingan langsung atau tidak terhadap pertemuan ini.

Perusahaan rental  kendaraan akan dibanjiri oleh penyewa. Para tetamu akan menyantap makanan di restoran, membeli souvenir, mengunjungi atraksi budaya dan kesenian, museum dan lainnya.

Pajak yang diterima dari kegiatan ekonomi, sosial dan budaya sebagian akan menjadi  pendapatan Kota Pittsburgh dan negara bagian Pensylvania.

Jika suasana kesibukan Pittburgh selama pertemuan G-20 ini kita bawa menjadi sebuah imajinasi untuk Kepulauan Riau, khususnya Batam, Bintan dan Karimun (BBK) , maka hal tersebut hendaknya dilihat dari semangat yang terkandung di baliknya.

Jika Pittsburgh adalah kisah tentang revitalisasi kegiatan ekonomi, maka untuk BBK, semangat Pittsburgh adalah upaya untuk memberi gairah (vitalisasi) untuk menggali potensi ekonomi regional BBK, tidak hanya melalui kegiatan industri manufaktur tetapi juga jasa, termasuk jasa logistik dan pariwisata bahari.

Di negara maju, proses transformasi ekonomi telah lama bergerak dari industri manufaktur menuju ekonomi jasa (service economy).Demikian juga halnya dengan Pittsburgh. Kota ini tidak hanya dikenal dengan sebutan sebagai kota baja (steel city) tetapi juga sudah bergerak menuju kota jasa. Di kota inilah terletak kegiatan jasa berskala global seperti K&L Gates, Reed Smith, and Burt Hill, dan jasa keuangan terkemuka seperti PNC dan Federated Investors.

Tidak boleh dilupakan bahwa Pittsburgh adalah lokasi di mana pendidikan tinggi terkemuka berada seperi Universitas Carnegie Mellon (CMU), Universitas Pittsburgh, dan University of Pittsburgh Medical Center (UPMC).

Lima strategi yang dilakukan oleh Kota Pittsburgh sehingga cukup berhasil melakukan revitalisasi ekonomi mereka yaitu, pertama, inovasi dan kewirausahaan; kedua, iklim investasi yang kompetitif; ketiga, kualitas pendidikan; keempat, peningkatan kualitas hidup; dan kelima, promosi dan pemasaran.

Untuk memberi vitalisasi perekonomian regional Kepulauan Riau, pembangunan infrastruktur tampaknya perlu langkah cepat melalui kegiatan (even) berskala nasional. Namun tentunya tidak mengorbankan anggaran untuk peningkatan kualitas pendidikan yang harus mendapat prioritas paling tinggi.

Melalui Pekan Olah Raga Nasional (PON), Kota Palembang memperoleh manfaat dari meningkatnya kapasitas infrastruktur, demikian juga halnya dengan Kota Pekanbaru yang saat ini sedang mempersiapkan PON. Tidak sedikit pula efek pengganda yang ditimbulkannya bagi perekonomian daerah.

Bagi Kepulauan Riau, proses transformasi menuju sektor jasa mungkin tak harus secepat di negara maju mengingat sektor industri baru saja berkembang dan masih memerlukan pendalaman (deepening). Karena Pittsburgh mempunyai universitas terkemuka dunia seperti Carnegie Mellon, ataupun pusat riset medis yang terkenal, maka di sinilah kita mempunyai motivasi lain bahwa Kepulauan Riau kelak dapat mempunyai pusat riset di bidang maritim yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Dalam sebuah diskusi dengan penulis, seorang pengamat mengatakan bahwa salah satu peluang BBK adalah tempat labuh jangkar kapal-kapal kontainer yang antre menuju pelabuhan Singapura. Walaupun pelabuhan Singapura memiliki teknologi canggih dan cepat dalam bongkar muat kontainer, namun karena Singapura sangat ketat dalam kebijakan laut bersih (clean ocean), beberapa tahun belakangan ini banyak kapal-kapal tersebut berlabuh di pesisir Barelang.

Hal ini merupakan peluang untuk menangkap biaya labuh jangkar sebelum sandar di dermaga Singapura.
Pembicaraan pada KTT G-20 di Pittsburgh tentang lingkungan hidup mejadi relevan pula bagi Kepualuan Riau, bukan lagi sebuah imajinasi, tapi nyata adanya.

Provinsi ini harus benar-benar memperhatikan persoalan lingkungan hidup, belajar dari kesalahan daerah lain sebelum menjadi sesal yang tak berguna.

Khususnya Kota Tanjungpinang bahkan Kabupaten Bintan, izin pertambangan bauksit perlu dipertimbangkan kembali karena sudah terlihat tanda-tanda bahwa kerusakan lingkungan, lebih besar mudaratnya dari pada manfaat. Tanjungpinang perlu mencari alternatif pengembangan ekonomi yang tidak tergantung pada pengelolaan tambang bauksit. Dampak yang akan ditimbulkannya justru akan merugikan kota ini dalam jangka menengah dan panjang.

Tanjungpinang harus tetap konsisten untuk pengembangan industri berbasis maritim, termasuk pariwisata bahari, dan sektor jasa lainnya.

Dengan luas areal yang relatif tidak besar, daya dukung Bintan, khususnya Tanjungpinang sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan. Kasus Sungai Pulai sebagai daerah tangkapan air yang semakin terkulai seharusnya memberikan kita pelajaran penting untuk tidak menggeser peruntukan lahan, apatah lagi mengekspoitasi sumber daya alam secara tidak proporsional.

Kenangan pada senja yang temaram, dari sebuah bukit di tepi Kota Pittsburgh, memandang jembatan yang melintasi pertemuan Sungai Allegheny dan Monongahela, sungguh membangkitkan imajinasi dan inspirasi tentang Kepulauan Riau. Kelak di senja yang temaram, dari Bukit Pulau Dompak dan Bukit Senggarang, kita akan memandang pula keindahan jembatan penghubung Kota Tanjungpinang dengan Pulau Dompak, serta Jembatan Batam-Bintan.

Namun imajinasi dan inspirasi itu akan pudar jika bukit-bukit Tanjungpinang terkelupas karena eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan jangka pendek.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here