Batam Dulu dan Sekarang

Akhirman.S.Sos,.MM - Dosen UMRAH Tanjungpinang

0
212

Masyarakat  batam harus bersiap-siap untuk beralih  profesi yang selama ini  hanya mengandalkan pekerjaan  sektor  Industri perakitan elektronik, galangan kapal, dan pertukangan.  Harus berfikir untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri atau berkelompok  pada sektor industry manufaktur seperti garmen, peraboran rumah tangga, pembuatan kemasan produk, kuliner,  industry mesin pendukung pekerjaan atau ke sektor perdagangan, sektor pariwisata dan Jasa lainnya.

Kondisi ini  setelah melihat  ekonomi  batam sulit  untuk  kembali normal  bahkan semakin memburuk. banyak investor yang mulai menarik diri,  selain batam dipengaruhi  oleh ekonomi global, soal birokrasi dan perizinan yang berbelit-belit  karena  dualisme kepemimpinan Pemko dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, ditambah lagi bahwa   batam saat ini  bukan satu-satunya andalan area investasi di kawasan Asean,   Dengan kondisi ini tentunya masyarakat akan sangat-sangat merasa kehilangan aktivitas pekerjaan dan sumber ekonominya.  Bukan saja  masyarakat namun juga akan berpengaruh terhadap pembangunan Kota Batam  karena berdampak pada target  capaian  baik sektor penerimaan keuangan daerah dan juga pelaksanaan program-program pemerintah yang telah ditetapkan.

Otoritas Tidak Menjaga Batam Dengan Baik

Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam  ahir-ahir ini tidak menjaga  Batam dengan baik, dalam studi  manajemen operasional  pemilihan lokasi pabrik (Industri) oleh manajemen  perusahan baik  Lokal  maupun Asing  ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain;  Lahan yang tersedia, Regulasi yang tertata baik dan tidak berbelit-belit,  kondusivitas keamanan  darah,  ketersediaan tenagakerja, Upah yang layak,  dekat dengan  market (pasar)  internasional, tersedianya bahan baku,  terjaganya persaingan.

Pada salah satu media  on line yang kami baca,  banyak komentar yang saling menyudutkan, setelah kondisi  Batam hari ini  menjadi begini,  komentar yang bernada bahwa beragam persoalan yang terjadi di Batam hari ini disebabkan oleh berbelit-belitnya urusan  perizinan, administrasi  yang tumpang tindih,  kisruh kewenangan antara Badan Pengusahaan (BP) dan Pemko Batam yang tidak kunjung teratasi, hingga tingginya upah minimum kota (UMK), dan tutupnya  berbagai  industry besar dan kecil di Kota  batam yang dikenal sebagai kota industry di Kepulauan Riau ini,  terahirnya  rendahnya volume  dan nilai realisasi  Penanaman Modal Asing (PMA) saat ini.

Ada juga yang mengomentari bahwa, Selain persoalan  birokrasi juga persoalan, UMK Batam yang terus naik setiap tahunnya dan tidak kompetitif dibanding negara lain di ASEAN juga dinilai sebagai faktor yang membuat investor tak betah. beberapa negara tetangga tersebut seperti Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam yang merupakan kompetitor dalam menarik investor, nilai UMK-nya relatif lebih rendah.

Di Vietnam, UMK-nya hanya Rp2,2 juta per bulan, Thailand Rp2,8 juta per bulan, dan Malaysia Rp3 juta per bulan. Beberapa negara lain malah lebih rendah, seperti Myanmar yang hanya Rp940 ribu per bulan dan Laos Rp1,5 juta per bulan. Sementara Batam, UMK-nya saat ini mencapai Rp3,2 juta per bulan.

Di negara lain, UMK tidak naik setiap tahun, tapi diputus berdasarkan kondisi ekonomi setiap tahunnya. Kalau kita, tiap tahun pasti naik dan diperkirakan lima tahun lagi UMK kita Rp5 juta per bulan,” menurut  berita  tersebut.

Sebagai akademisi,  kami  melihat secara utuh dari berbagai komentar di atas, dan  melakukan analisis  serta memberikan tanggapan bahwa kondisi Batam hari ini sebenarnya  sesuatu yang wajar  saja terjadi, kalau kita kembali mengingat peristiwa apa yang dirasakan oleh tenagakerja dan masyarakat di  Pulau Batam sekitar tahun 1997 yang lalu. UMK  batam  tidak  langsung  langsung dari angka Rp.3 juta atau Rp,3,2 juta sepeti hari ini.  Artinya  UMK  sebesar Rp.3,2 juta hari ini  hanyalah buah  dari  cipta kondisi ekonomi nasional yang menyeluruh yang digagas oleh pemerintah pusat, disebabkan oleh kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga BBM yang mempengaruhi  terhadap  berbgaai faktor-faktor pembiayaan  yang lainnya yang dialami oleh masyarakat seperti;   naiknya biaya sektor  transportasi, sektor  harga kebutuhan pokok, sektor biaya sewa dan lain-lainnya. Merosotnya nilai rupiah  dari antara  Rp.8 ribu hingga Rp9,300 rupiah menjadi saat ini Rp.13,-an rupiah per-dolar  AS.

Mengacu  pada  tinginya  UMK Kota Batam dibandingkan dengan UMK negara-negara lainnya di ASEA, yang disebutkan di atas sebenarnya bukan kesalahan masyarakat, masyarakat hanya penyediakan  jasa. Kebijakan ada di tangan pemerintah dan lembaaga terkait. Kemudian adanya negara-negara yang UMK nya di bawah Batam, sesuatu yang wajar saat ini,  karena  negara tersebut adalah negara yang menjadi kawasan baru dari Industri di ASEA  setelah  Batam dan  juga bagian dari altrenatif Lokasi  yang dipilih oleh Manajemen perusahan  karena Batam akhir-akhir ini dilanda  berbagai persoalan  seperti yang disebutkan diatas.  Selama ini pemerintah Kota Batam dan BP Batam, hanya mengelola  Penerimaan Pendapatan Dareah (PPD) dari  hasil  produksi indusri  yang ada,  namun Pemerintah Dareah, dan  BP Kawasan Batam tidak melihat  adanya celah dari Investor untuk melirik  negara-negara lain di  ASEAN  sebagai   Lokasi  Industri selain Batam.

Hal-hal transformasi  knowledge  seperti ini  yang  sulit di pahami oleh para praktisi  dan birokrat  di Kota Batam.  Selama ini mereka  tidak  melakukan dan melibatkan akademisi dalam berbagai kajian-kajian pembangunan  di darah ini.  Padahal berkaitan dengan kondisi ekonomi, sosial, mestinya dilakukan kajian-kajian  akademisnya secara serius, sehingga dampak sosial ekonomi, pada perusahaan yang ada juga turut diperhitungkan, apakah perusahan akan bertahan, atau harus pindah ke Lokasi yang lebih strategis.   Karena  negara-negara lain juga memiliki peluang yang sama pada suatu  waktu,  dan ini telah terbukti.  Sudah ada  dalam teori,  namun bisnis  kita di Indonesia  memang  demikian rapuhnya karena  tidak di  manage (dikelola) secara professional,   kita  menyadari  bahwa  investor  lokal  (dalam negeri) sangat sedikit jumlahnya dan tidak mampu mengangkat petumbuhan ekonomi dan menopang pembangunan dareah  jika  dibandingkan  dengan nilai  penerimaan dari investor  Asing

Mestinya   sebagai institusi  yang terlibat  dalam pengambil kebijakan  di Kota Batam ini,  semuanya harus  mencermati  forcasting (meramalkan)  apa yang akan terjadi di Kota Batam  pada masa sepuluh atau dua puluh  tahun  ke depan. contohnya antara tahun 1997-2017.

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya  tahun 1997  Batam  sangat kondusif,  sangat ramah, masyarakat  yang pada umumnya  pekerja  khususnya di Batamindo saja  mencapai hingga  belasan ribu  orang,  ekonominya tumbuh dengan baik .  Setelah  reformasi  kondisi politik di Batam  begitu cepat  dikuasai  sehingga lupa  mengkondisikan  apakah batam ini punya  sumber ekonomi  selain dari Industri yang digerk-kan oleh investor asing?  yang pada saat itu  membuat  batam sangat mempesona, bahkan  menjadi seorang politikus dan Bupati/Walikota  di Batam sama dengan  menjadi seorang  Walikota  di DKI.

Batam Hari  Ini

Begitu masuk tahun 2017, setelah dua puluh tahun berjalan, hari ini kondisi Batam  berbalik ke 70 derajat  pemerintah dan  lembaga lainnya yang berwenang mengurusi Batam merasa kehilangan  kekuasaan, kehilangan kewenangan, kehilangan manage (urusan), hingga ahirnya  mengeluarkan berbagai statemen,  mulai dari  birokrasi yang tidak sehat, pasar ekonomi global yang Lesu, UMK  terlalu tinggi, menarik dirinya  investor,  keamananan yang tidak kondusif,  Issu Provinsi Baru, dan lain-lain sebagainya.

Benang merahnya  itu  ada  pada  bapak-bapak yang punya kewenangan  terhadap Batam. Semestinya 10 – 15 tahun yang lalu Batam ini sudah memiliki pertanyaan?

“Mau dijadikan apa  Batam ini dua puluh tahun kemudian (hari ini)  semestinya sudah diantisipasi  sejak tahun 1997  yang lalu”.  Bukan sebaliknya  ketika  Berjaya dengan industry  yang dianggap  satu-satunya  kawasan  di Asea,  hari ini  tidak  lagi satu-satunya  di ASEA,  inilah  yang disebut  persaingan.

Kisruh  Pemerintah Kota dan BP Kawasan pada pengelolaan Batam sudah seharusnya di selesaikan,  seharusnya  lebih mementingkan Batam ini 10 tahun kedepan akan mengalami kondisi seperti apa?

Batam adalah Kota Industri, yang selayaknya  dikelola oleh mereka yang memiliki visi industry dan perencanaan yang matang karena rentan  terhadap keggalan pengelolaan.  Industri   dibangun  dari Investor Asing yang tidak punya beban berlebihan seperti yang dialami oleh PMDN yang mana modalnya sedikit, pasarnya sedikit, produksinya terbatas.  PMA adalah industry Asing, yang hanya membawa manajemennya ke Batam dan Kepulauan Riau, sementara fasilitas yang digunakan bersifat  sewa,  Tenaga kerja dengan sitem kontrak membuat investor  dapat memasang target jangka pendek. 5 – 10 tahun di suatu negara. Sementar pemerintah harus menanggung beban seperti;  Penanganan pengangguran, Penangangan Harga, Penanganan Produksi, Penanganan Keamanan, Penanganan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan yang tak  terpisahkan dari dampak penutupan berbagai perusahaan di suatu daerah seperti Batam.

Kami sering  mendengar  keluhan pemeritnah, masyarakat dan mengkajinya pada  berbagai forum tentang  Batam dan Kepri, yang dipengaruhi oleh ekonomi global,  tapi  pemerintah Batam dan BP (Badan Pengushaan) Batam, lupa bagaimana mengantisipasi  pesaingan global tersebut,  seperti misalnya;  bagaimana agar Industri  tetap terjag.  Para investor bukan berarti  mereka  tidak  melakukan kegiatan perusahaan, akan tetapi  mereka  memanfaatkan dan masuk ke negara-negara lain  seperti Myanmar, Vietnam yang sedang melakukan pengembangan  industry  seperti  Batam dulunya,  karena karteristik  masyarakat, ekonomi dan sosialnya tidak  jauh  berbeda dengan  masyarakat Indonesia.  Pemerintah lupa  melakukan pengembangan industry  kecil dan menengah (entrepreneur) , kecuali hanya memperluas  sektor perdagangan, sementara konsumennya  tidak memiliki  target  belanja karena telah kehilangan pekerjaan sebagai mata pencaharian,  ini mata rantai yang tak terpisahkan. Semoga  pemerintah  Kota Batam dan BP Kawasan Batam,  secepatnya melakukan terobosan.      Semoga tulisan ini   bermanfaat…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here